Skandal Korupsi di Daerah: Dari APBD Sampai Proyek Jalan Desa Drama Tak Berkesudahan
3 mins read

Skandal Korupsi di Daerah: Dari APBD Sampai Proyek Jalan Desa Drama Tak Berkesudahan

Korupsi di daerah itu ibarat sinetron: episodenya nggak habis-habis, plot twist-nya banyak, dan pemeran antagonisnya silih berganti tapi kelakuannya mirip semua. Kadang kita, warga biasa, cuma bisa geleng-geleng sambil ngerasa déjà vu: “Eh, bukannya ini pernah kejadian tahun lalu?”

Mulai dari APBD yang bocornya lebih ngeri dari pipa air PDAM tua, sampai proyek jalan desa yang umurnya cuma seumur jagung, semua itu jadi masalah klasik. Tapi meskipun klasik, tetep aja bikin kesel.

APBD: Dari Anggaran Rapi ke Anggaran Laga-lagi

APBD itu ibarat dompet daerah. Isinya gede banget. Harusnya bisa dipakai buat banyak hal yang bikin hidup warga makin enak: jalan mulus, layanan publik lebih cepat, fasilitas umum oke, pendidikan lebih merata, dan sebagainya.

Tapi masalahnya…
Kalau udah ada oknum yang gatel, anggaran bisa berubah dari “Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah” jadi “Anggaran Pendapatan Buat Diri Aja”.

Trik Klasik di Balik Korupsi APBD

Biasanya pola-pola “jurus kuno” yang dipakai begini:

  • Markup harga — Barang 50 ribu dibilang 150 ribu.
  • Proyek fiktif — Di laporan ada, di dunia nyata entah di mana.
  • Jatah-jatahan proyek — Yang penting dekat, bukan yang penting bisa kerja.
  • Fee proyek — Atau versi halusnya: “uang ucapan terima kasih”.

Kadang korupsi APBD itu bukan soal satu-dua orang doang, tapi ekosistemnya yang udah kebentuk. Dari level bawah sampai atas bisa sama-sama kecipratan, entah sedikit atau banyak.

Dan saat ketahuan?
Alasannya klasik banget: “khilaf”.

Proyek Jalan Desa: Aspal Tipis, Untung Tebal

Kalau mau cari contoh paling gampang keliatan, ya proyek jalan desa.
Kenapa?
Karena warga bisa ngecek langsung hasilnya.

Lo pasti pernah lewat jalan yang baru sebulan jadi, tapi udah kayak kulit jeruk: bolong sana-sini. Aspalnya remah-remah, habis kena panas sebentar doang udah ngelupas.

Kenapa Bisa Gitu?

  • Materialnya ditekan supaya dana bisa “dipisahkan” dulu
  • Kontraktor dipilih bukan karena kualitas, tapi karena kedekatan
  • Pengawasan cuma formalitas: datang, foto, pulang

Jalan desa yang harusnya bisa tahan bertahun-tahun, malah hancur dalam hitungan minggu.
Jadinya warga cuma bisa komentar sambil ketawa pahit:
“Ini mah aspal apa wafer?”

Permainan Proyek: Dari Meja Pejabat Sampai Lubang Jalan

Biar makin jelas, gini alurnya secara umum:

  1. Proposal masuk — Desa butuh jalan. Mantap.
  2. Anggaran disetujui — Semua aman di atas kertas.
  3. Pemilihan kontraktor — Mulai rawan.
  4. Negosiasi ‘biaya tambahan’ — Yang nggak ada di SOP tapi ada di realita.
  5. Eksekusi proyek — Material murah, tenaga kerja seadanya.
  6. Serah terima formalitas — Laporan rapi, foto rapi, jalan? Ya gitu deh.

Masalahnya, kalau warga protes, sering malah dianggap bikin ribut atau nggak ngerti proses. Padahal yang ngerasain hasilnya ya warga sendiri.

Kenapa Korupsi Daerah Susah Hilang?

Ada beberapa alasan kenapa drama ini terus berputar:

1. Pengawasan minim

Kadang cuma formalitas. Yang penting laporan masuk.

2. Celah hukum

Aturan banyak, tapi yang ngerti lebih banyak lagi celahnya.

3. Budaya “ya sudahlah”

Banyak warga mikir protes percuma. Ujung-ujungnya pasrah.

4. Sistem tender ribet

Ribet buat yang jujur, gampang buat yang “akrab”.

5. Insentif buruk

Yang bersih jarang dihargai, yang nakal sering aman.

Tapi Ada Kabar Baik

Tenang dulu, nggak semuanya gelap kok. Zaman sekarang:

  • Warga makin melek internet
  • Banyak aplikasi buat cek anggaran secara online
  • Kasus gampang viral
  • Media makin cepat ngebongkar
  • LSM makin aktif ngawasin

Bahkan banyak kepala daerah baru yang mulai bener-bener fokus transparansi. Udah nggak bisa lagi main sembunyi-sembunyi kayak dulu. Sekali viral, habis reputasi.

Apa yang Bisa Dilakuin Warga?

Biar nggak cuma ngeluh doang, warga bisa:

  • Pantau laporan anggaran desa
  • Bandingin harga material
  • Dokumentasi jalan atau proyek mencurigakan
  • Laporkan ke lembaga resmi
  • Viral-kan dengan data lengkap (bukan asumsi)

Kalau gerak bareng, korupsi lokal bisa makin terpojok.

Penulis : Korupsi