5 Modus Korupsi yang Sering Terjadi tapi Jarang Disadari Hati-hati, Bisa Jadi Kita Pernah Ikutan!
7 mins read

5 Modus Korupsi yang Sering Terjadi tapi Jarang Disadari Hati-hati, Bisa Jadi Kita Pernah Ikutan!

Kalau denger kata “korupsi”, pasti yang kebayang langsung pejabat, uang miliaran, dan berita di TV, kan?
Padahal kenyataannya, korupsi itu nggak selalu soal angka gede dan jabatan tinggi.
Banyak bentuk korupsi yang justru sangat dekat sama kehidupan sehari-hari kita, tapi… nggak disadari.

Lucunya, kadang malah dianggap “hal kecil yang wajar” padahal ya tetap aja korupsi, cuma versi mini 😬.
Dan parahnya lagi, dari hal kecil itulah budaya korupsi bisa tumbuh subur di sekitar kita.

Jadi, biar nggak kejebak jadi “koruptor kecil”, yuk kenali 5 modus korupsi yang sering banget terjadi tapi jarang disadari. Siap? Gas!

1. 🕐 “Titip Absen” Korupsi Waktu yang Sering Dianggap Sepele

Pernah nggak sih nitip absen ke temen pas kuliah, rapat, atau kerja?
Kayak, “Bro, titip absen ya, gue telat dikit nih.”
Kedengeran receh, tapi ini udah termasuk bentuk korupsi waktu.

Soalnya, kamu dapat keuntungan (status hadir, gaji, atau nilai) padahal nggak hadir beneran.
Coba bayangin kalau semua orang kayak gitu sistem absensi jadi rusak, dan orang yang bener-bener disiplin malah dianggap sama aja.

Korupsi waktu itu bukan cuma soal jam kerja, tapi juga soal integritas pribadi.
Orang yang terbiasa curang di hal kecil, lama-lama bakal terbiasa juga “main cantik” di hal besar.
Dan percaya deh, kebiasaan kayak gini tuh bisa nular kayak virus.
Jadi, mulai sekarang: hadir ya hadir, nggak ya nggak. Gampang tapi berdampak banget!

2. 💰 “Mark Up” Naikin Anggaran Biar Ada Sisa

Nah, ini modus klasik yang udah kayak “lagu lama” di dunia kerja, terutama di proyek-proyek.
Contohnya: beli barang harga Rp1 juta tapi ditulis di laporan jadi Rp1,5 juta.
Selisih Rp500 ribunya masuk ke kantong pribadi.
Keliatan “pintar ngatur” padahal ya itu korupsi murni.

Yang bikin bahaya, mark up ini sering dibungkus rapi banget:
dokumen lengkap, tanda tangan sah, semua keliatan legal. Tapi di balik itu, ada permainan angka.
Kadang pelakunya nggak merasa bersalah karena ngerasa “ya semua juga gitu.”
Padahal kalau semua beneran gitu, ya hancur juga keuangan negara dan perusahaan 😅.

Efek mark up ini nggak cuma bikin kerugian materi, tapi juga ngerusak sistem kepercayaan.
Karena kalau bawahan lihat atasan bisa main angka, mereka pun ngerasa punya “izin moral” buat ngikutin.
Jadi, meskipun keliatan rapi dan “resmi”, mark up tetap aja dosa finansial yang besar.

3. 🫱 “Nepotisme Halus” Bantu Temen Tapi Salah Kaprah

“Nggak apa-apa bantuin temen, kan biar gampang kerja bareng.”
Kalimat ini sering banget dipakai buat ngebela tindakan nepotisme alias ngasih posisi, proyek, atau kesempatan ke orang dekat, bukan ke yang paling pantas.

Masalahnya, nepotisme ini sering halus banget.
Misalnya: ada lowongan kerja, terus yang direkrut bukan karena skill, tapi karena “anaknya kenalan bos”.
Atau pas tender proyek, yang dikasih malah perusahaan milik saudara sendiri.

Banyak yang nganggep ini cuma “bantu keluarga”, padahal efeknya bisa ngancurin sistem profesionalisme.
Orang yang kompeten bisa kalah karena nggak punya “orang dalam”.
Lama-lama, kualitas kerja turun dan lingkungan kerja jadi nggak sehat.

Nepotisme tuh ibarat rayap: keliatannya kecil, tapi bisa ngancurin pondasi keadilan di tempat kerja.
Jadi, kalau mau bantu temen, bantu dengan cara yang fair dan tetap sesuai aturan, ya!

4. 💵 “Uang Terima Kasih” Suap yang Dibalut Manis

Istilah “uang rokok” atau “uang terima kasih” tuh sering banget dipake buat hal-hal kayak gini:

“Biar cepet beres aja urusannya.”
“Cuma sekadar ucapan terima kasih kok.”

Padahal realitanya, itu suap kecil-kecilan yang udah jadi budaya.
Awalnya mungkin niatnya baik, tapi kalau diterusin, lama-lama jadi kebiasaan yang berbahaya.
Bayangin kalau tiap layanan publik harus dikasih “uang terima kasih”, berarti pelayanan cuma buat yang bisa bayar lebih.

Masalahnya, suap kecil ini bikin masyarakat jadi permisif:
kita ngerasa “yaudah lah, semua juga gitu.”
Padahal dengan berpikir kayak gitu, kita ikut nyuburin tanah tempat korupsi tumbuh.
Kalau mau negara dan sistem bersih, ya mulai dari nggak bayar-bayar biar urusan cepet.
Karena kalau hak kita udah jelas, ya nggak perlu bayar apa-apa untuk dapet yang seharusnya.

5. 🖨️ “Ngambil Fasilitas Kantor Buat Urusan Pribadi”

Pernah pinjam mobil dinas buat jalan-jalan? Atau nge-print tugas anak pakai printer kantor?
Nah, ini juga bentuk penyalahgunaan fasilitas negara atau instansi.

Banyak orang nganggep sepele, karena mikir “cuma sekali doang” atau “kan cuma dikit”.
Padahal barang-barang itu dibeli pake uang kantor yang artinya bukan milik pribadi.
Kalau semua orang berpikiran begitu, kantor bisa bangkrut cuma gara-gara biaya operasional bocor ke sana-sini.

Yang parah, kadang malah ada yang sengaja “ambil jatah” buat keperluan pribadi, kayak bahan bakar, ATK, atau barang-barang kantor.
Ini juga korupsi versi “soft” yang sering banget nggak disadari.
Kuncinya satu: bedain mana urusan pribadi dan urusan kerja.
Kalau masih abu-abu, lebih baik jangan. Karena dari hal kecil gini, integritas kita bisa kelihatan jelas.

📊 Bonus: 3 Modus Lain yang Nggak Kalah Bahaya

Karena kamu udah sampai sini (good job 👏), nih tambahan tiga modus kecil lain yang juga sering banget kejadian:

⚖️ 1. “Main Data” Manipulasi Laporan

Ngubah angka laporan biar keliatan bagus, entah buat naik jabatan atau hindarin teguran.
Padahal datanya udah jelas salah. Ini termasuk pemalsuan informasi dan bisa kena pasal berat juga.

💡 2. “Minta Fee Proyek”

Sering denger istilah fee sukses atau komisi tambahan? Kalau fee-nya nggak sesuai aturan dan cuma buat keuntungan pribadi, itu juga bentuk gratifikasi atau suap terselubung.

🗣️ 3. “Tutup Mata”

Kadang bukan pelaku utama, tapi orang yang tau ada pelanggaran dan diem aja.
Ini juga bentuk partisipasi pasif dalam korupsi.
Kalau tau ada yang salah, tapi milih pura-pura nggak tau, artinya kamu ikut melindungi pelaku.

🧭 Penutup: Korupsi Nggak Selalu Tentang Uang, Tapi Tentang Sikap

Kadang korupsi nggak butuh uang triliunan atau kekuasaan tinggi.
Cukup satu tindakan kecil yang nggak jujur, dan kita udah ikut andil dalam rusaknya sistem.
Bisa jadi korupsi waktu, fasilitas, atau jabatan intinya semua yang mengambil hak orang lain demi keuntungan pribadi.

Biar nggak terjebak, mulai aja dari hal simpel:

  • Datang tepat waktu.
  • Kerjain tugas sesuai tanggung jawab.
  • Jangan titip absen.
  • Jangan pake barang kantor buat hal pribadi.
  • Dan berani bilang “nggak” kalau diajak main curang.

Ingat, integritas itu nggak bisa dibeli, tapi bisa dibangun.
Kalau kita semua mulai dari diri sendiri, budaya korupsi bisa perlahan hilang.
Bukan cuma buat negara, tapi buat diri kita sendiri juga. Karena hidup jujur itu tenang banget, bro. 😌

💬 Kesimpulan Singkat

NoModus KorupsiBentukDampak
1Titip AbsenKorupsi waktuMenurunkan disiplin dan integritas
2Mark UpManipulasi anggaranKerugian finansial besar
3NepotismePenyalahgunaan posisiSistem jadi nggak adil
4Uang Terima KasihSuap kecilBudaya curang makin subur
5Fasilitas KantorPenyalahgunaan asetKerugian operasional

Pesan Akhir

Korupsi itu bukan cuma urusan pejabat tapi urusan kita semua.
Kalau mau bangsa ini bersih, ya mulai dari diri sendiri: berani jujur, walau sendirian.

Soalnya kadang, revolusi besar dimulai dari keputusan kecil buat nggak curang hari ini.

Penulis : DELTA88